Kemungkinan di antara Ketidakmungkinan Waktu

Bagi manusia, waktu pasti berlalu. Hari-hari berganti begitu saja. Mungkin lepas dengan tenang, memuaskan sekaligus nostalgik. Mungkin juga terlewatkan sia-sia, penuh penyesalan dan amarah. Lalu, semua itu terhitung menjadi bulan, menjadi tahun, menjadi puluhan tahun yang membuatnya sebagai kumpulan kehidupan yang sempurna. 

Tapi sadarkah, bahwa, manusia-manusia yang sama itu, membunuh kemungkinan-kemungkinan bentuk hidupnya yang lain. Setiap harinya, ia memilih untuk melakukan kehendak yang, bisa saja, memaksanya maupun ia pilih dengan sukarela. Dibalik pilihan berkehendak itulah tersimpan kemungkinan bentuk hidup yang lain, yang datangnya dari masa lalu dan tertinggalkan dengan damai, yang tidak pernah ditengok kembali. Dibalik pilihan berkehendak itu pula terkandung masa depan yang menanti dengan tidak sabar: seakan hidup hanyalah tentang imaji masa depan yang indah ataupun suram, dan tidak ada di antaranya.

Waktu tidak memungkinkan manusia untuk hidup lebih dari sekali. Kecuali, ia percaya adanya reinkarnasi. Pada hidupnya yang cuma sekali di dunia itulah, manusia dipaksa memilih akan melakukan apa dan bagaimana ia menjalani kehidupannya. Ada yang sudah memilih kehidupannya sedari umur belia, ada yang memilih untuk menundanya hingga paruh baya. Manusia-manusia itu tanpa sadar, bahwa, ketika ia memilih kemungkinan bentuk hidupnya, ia telah memilih untuk meninggalkan kemungkinan-kemungkinan lain yang ia akan jalani. Ia bisa menyesal, bisa berpuas diri atas pilihannya. 

Setelah memilih, ia lantas menjalani bentuk kehidupannya. Ada yang penuh komitmen dan rasa syukur, ada yang biasa saja dan merasa tidak ada yang istimewa dalam hidupnya, ada pula yang malas-malasan dan merasa hidup ini semacam kutukan Tuhan. Lalu, di ujung hidupnya, ia bertanya-tanya, mengira-ngira, akankah bentuk hidup yang ia pilih kemarin adalah yang terbaik di antara yang terbaik? Jangan-jangan, ia salah memilih sehingga seluruh hidupnya adalah kesia-siaan. Alih-alih memilih surga sedari di dunia, ia malah menghidupi neraka saat di dunia. 

Seseorang bisa menjadi apapun yang ia kehendaki. Katanya. 

Nyatanya, manusia tidak bebas menjadi apa yang ia kehendaki. Ia bebas selama dalam koridor-koridor yang diijinkan untuknya. Ada koridor spiritual, religi, masyarakat dan lainnya, yang membatasi pilihan-pilihannya. Itulah kebebasan hakiki manusia. Ia hidup dalam tata aturan yang telah terbentuk jauh sebelum ia dilahirkan dan dihadirkan di bumi. Nasibnya bukanlah sepenuhnya miliknya, nasibnya berinteraksi dengan banyak hal. 

Seseorang bisa saja secara acak dan belum yakin sepenuhnya, memilih suatu bentuk kehidupan, memilih apa yang ia kerjakan setiap harinya. Dari pengalaman sehari-harinya itulah ia membentuk kesadaran akan kehidupan riilnya. Ia mungkin tidak lagi bermimpi muluk. Bahwa hidup adalah hidup yang harus dijalani dengan ikhlas dan tulus. Atau, hidup adalah kumpulan peristiwa dalam ruang dan waktu yang tidak menghendaki adanya aturan ikhlas, tulus maupun syukur, hanya jalani apa adanya. Ia menuruti kata otaknya, bukan lagi kata hatinya. 

Ada hal-hal yang mungkin, memang. Tapi, kemungkinan yang dipilih itu telah menutup kemungkinan-kemungkinan lain. Yang harus diingat, kemungkinan itu bisa jauh lebih buruk. Atau, jauh lebih indah. Akhirnya, penciptaan tidak bisa lepas dari asal muasalnya, bahwa, Manusia hanya dihadirkanNya, tidak lain dan tidak bukan, hanyalah untuk menyembahNya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

484

Langka

Kolam Renang