Phobia Itu Lebih Dekat Dari Urat Leher
Ada suatu penyakit modern, semacam phobia mereka menyebutnya, yang begitu berbahaya. Ia dekat dan hadir setiap hari. Namun, sejauh ini, nampaknya belum (atau berpura-pura belum) kita sadari. Penyakit ini banyak menjangkit mereka dari kelas menengah terdidik yang akses internetnya luar biasa. Saking luar biasanya, mereka memilih internet sebagai partner kehidupan yang tidak mungkin mereka lepaskan. Di dalamnya, mereka berlomba-lomba menampilkan jati diri terbaik di internet, seakan-akan, tidak ada lagi tempat bagi mereka meluapkan identitas mereka. Mereka perlu untuk disebut keren, gaul, asyik, smart, dan berbagai atribut khas anak muda yang modern lainnya. Memang tidak ada salahnya, kata mereka.
Sampai mereka sadar, ada yang mengganggu kepuasan batin mereka sendiri.
Pernahkah ada teman atau saudara anda, yang begitu cemas dalam interaksi tatap muka langsung? Gambarannya, ia seakan-akan tidak diberikan kemampuan oleh Tuhan untuk menatap lima menit saja mata lawan bicaranya. Kalau bisa, ia ingin segera, menatap layar kecilnya yang dipenuhi dengan hiburan. Ia lebih nyaman dengan kehidupan dalam layar kecil itu. Ia membalas percakapan sekenanya, tanpa ada maksud untuk memahami lawan bicaranya. Sebenarnya, apa yang ia lakukan? Apa yang ia hidupi dalam bentuk kehidupannya yang janggal itu?
Rupanya, salah satu jawabannya adalah phobia ketinggalan informasi. Ia berbentuk kecemasan yang tidak berhenti ketika ia tidak melihat informasi di internet. Ia merasa dirinya harus mengetahui segala hal di internet layaknya raja yang tidak nyaman di singgasananya: ia harus dan wajib tahu kemana saja prajuritnya berpergian, apa yang mereka lakukan, dan mau apa mereka besok. Seakan, informasi diciptakan untuk dirinya.
Padahal, kita semua tahu, informasi itu tidak pernah berhenti. Ia berjalan per detik, bahkan di bawah itu. Bahasa ilmiahnya, nano second. Ketika kita mengedipkan mata kelima kalinya, sudah berjuta informasi yang diupdate di internet. Bisakah manusia mengetahui segalanya, setidaknya, informasi yang terkandung di internet?
Bukan rahasia lagi apabila mereka yang terkena phobia ini lebih banyak adalah perempuan yang insecure atas kehidupan pribadi mereka. Mereka lalu memilih melihat dan berselancar di social media. Di dalam layarnya yang kecil itu, ia lihat ada suatu bentuk kehidupan lain yang luar biasa indahnya, bahkan mengalahkan kehidupannya yang membosankan, meskipun lebih nyata daripada layar itu sendiri. Ia lihatlah seorang teman yang dengan gagahnya berfoto di puncak gunung tertinggi, seorang temannya-teman yang dengan santainya menikmati pantai, sambil menikmati makan di restoran terkemuka atau resort yang mewah. Dan lain sebagainya.
Dan ini terus bergulir. Setiap orang mengupdate social media yang menggambarkan keindahan hidupnya, ia tambah merasa insecure. Ia harus mampu melakukan apa yang mampu dilakukan temannya.
Kadang, aneh juga masyarakat modern itu. Sampai kita sadari, mungkin kita semua ini-lah, yang mampu mengakses internet, di antara mereka yang mengidap phobia Fear Of Missing Out (FOMO) itu.
Komentar
Posting Komentar