Keberanian Mencari dan Menerima Kebenaran
Banyak orang jenius di dunia ini, sayangnya, tidak sedikit yang culas dalam mencari dan menerima kebenaran sebagai kebenaran. Truth as the truth itself.
Dalam hidup ini, manusia tidak bisa dilepaskan dengan proses pencarian kebenaran. Ia terlahir dalam kondisi tidak tahu apapun, bahkan mengenai namanya. Semakin berkembang dan bertumbuh ia, makin berkembanglah otak dan pengetahuannya. Ia mulai mengetahui apa yang berada di sekelilingnya. Semakin banyak yang ia ketahui, semakin banyak pula yang ia tidak ketahui. Begitulah prinsip pengetahuan.
Namun, yang lucu adalah ketika proses pencarian kebenaran itu dilakukan melalui ketidakberanian menghadapi kebenaran yang akan diterimanya. Susah payah ia mempertanyakan segala hal, dan ketika mendapatkan jawabannya, ia justru menolaknya dengan segala logika yang dapat dibolak-balikkan. Padahal ia tahu bahwa ia sudah mendapatkan kebenarannya: hatinya menerima kebenaran itu sepenuhnya, tidak setengah-setengah. Hatinya merasakan bahwa inilah kebenaran yang tidak ada keraguan lagi di dalamnya (laa rayba fiihi). Mengapa hal ini bisa terjadi?
Apakah karena kebenaran yang diterima itu begitu berat diterima?
Apakah karena ego logika yang tidak mau kalah?
Apakah menyangkut kepentingan yang diemban? Katakanlah, kepentingan identitas, bisnis dan lain sebagainya.
Dimanakah masalahnya?
Kasus ini terjadi terutama di bidang agama. Modernisasi, globalisasi, dan sekularisasi, katakanlah begitu untuk menyederhanakan segala aspek berkaitan dengan kemajuan dan pengarusutamaan ilmu pengetahuan, telah mengguncang keimanan individu sampai ke akar-akarnya. Sering kita temui beberapa teman kita mendadak menjadi seorang liberalis tulen yang dengan bangganya menjelek-jelekkan agamanya sendiri. Mereka menjadikan logika dan kritisisme sebagai titik tolak peradaban manusia. Buat apa manusia modern mengikuti pola dan cara hidup yang diajarkan dokumen ribuan tahun lalu? Sudahlah, do whatever you wanna do. FOR LOGIC SAKE, YOU ONLY LIVE ONCE.
Yang lucu di Indonesia akan selalu ada. Katanya, walaupun liberal, kalau masalah lewat kuburan, mereka mengucap bismillahirrahmanirrahim. Atau pangnumpang-numpang ketika kencing di pohon.
To be continued...
Komentar
Posting Komentar