Hidup Hanya Untuk Bersenang-Senang

Tulisan ini terinspirasi dari video klip DJ kelas dunia, Avicii, yang tidak sengaja saya tonton di waktu senggang. Judulnya "The Nights". 

Pada awalnya, hanya iseng saja. Selingan di antara kerjaan. Tapi, saya jadi bertanya-tanya arti hidup secara mendasar setelah menonton video itu. 

Video tersebut menampilkan satu sosok pria muda yang menjalani hidup dengan sepenuhnya. Bahasa sekarangnya, "live life to the fullest". Ia menaiki gunung dengan religius, mengendarai mobil dengan puas, berenang dengan penuh kebahagiaan, dan mengunjungi beberapa bagian bumi yang sangat indah. Sangat indah. Bagi beberapa, gaya hidup petualang "adventurer lifestyle" seperti itu adalah hal yang seharusnya mereka jalani. Bukannya terbebani dan menghabiskan sisa usia di kubikel-kubikel yang mengasingkan.

Di akhir video, pria tersebut menuliskan, dengan begitu artistik, sebuah pesan adiluhung di tembok jalanan "live a life you will remember". Itu adalah tipikal nasihat untuk generasi saya, generasi postmodern, untuk anak-anak muda, yang terdidik dengan kebiasaan tanpa nilai dasar dan besar. Generasi yang menghidupi sikap pecundang, seperti mudah galau dan hanya mengutamakan kesenangan jangka pendek. Mereka merasa tidak ada tujuan hidup selain untuk mencari kesenangan. Beberapa di antaranya bodoh karena anti belajar. Mereka merasa belajar, apalagi di sekolah, adalah hal yang sangat amat menyakitkan sehingga lebih baik bagi mereka untuk bermain dengan teman-teman dan selalu mencari kesenangan di luar sekolah/kantor.

Kekacauan itu diperparah dengan social media yang patologis. Mereka jadi bodoh sekaligus narsistik.  Apa yang lebih buruk dari itu?

Secara awam dapat kita saksikan, betapa banyak anak muda yang mengalami masalah eksistensial. Mereka tidak tahu apa tugas mereka, untuk apa mereka dilahirkan ke bumi, akan kemana mereka setelah semuanya usai. Karena ketidaktahuan itulah, mereka menganggap segala hal yang menyusahkan (seperti belajar) adalah hal yang harusnya dijauhi. Sekolah menjadi neraka hanya karena sekolah tidak menyediakan kesenangan. Dari kenyataan itu, bermunculanlah metode-metode belajar yang tidak jelas dan terkesan dipaksakan yang semuanya menawarkan kemudahan dalam belajar, seperti learning with fun! You can get much more when you're happy! Atau ungkapan Joker "Why so serious?" yang dilebih-lebihkan. Seakan-akan, semuanya harus bermuara pada acara bersenang-senang, yang tidak membuat otak berpikir keras. Yang penting bisa tertawa bersama-sama, mood bagus dan jalan-jalan men! 

Omong kosong... Yang tidak terhindarkan. 

Hidup bukan hanya untuk bersenang-senang. Ada perjuangan di dalamnya agar kebaikan bersama dapat terwujud. Lagipula, dunia hanyalah tempat manusia menumpang minum, kata Orang Jawa kuno. Sementara saja kita disini. Tanyakanlah pada diri sendiri, setelah selesai minum, mau kemana?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

484

Langka

Kolam Renang