About The New Rich
Benar-benar, benar-benar tulisan aftercapital. Tulisan yang dilahirkan hanya pada waktu-waktu setelah pencarian tanpa henti terhadap materi. Bahasa sederhananya, setelah kerja. Bahasa penjelasnya, setelah memiliki waktu luang untuk sekedar menuangkan sedikit pemikiran yang telah lama menghinggap, bahkan hampir usang karena terlalu lama dibiarkan sendiri.
Jangankan pemikiran yang abstrak, makanan saja yang riil kalau dibiarkan akan basi dengan sendirinya. Materi membutuhkan perhatian manusia agar kehadirannya bisa berarti. Tanpa manusia, ia tidak berarti.
Anthropocentric at its best.
Jadi, selama kurang lebih dua bulan saya tidak lagi menulis di blog ini. Saya bukannya tanpa pemikiran untuk dituangkan (sesungguhnya itu terlalu banyak!), tapi saya merasa tidak ada waktu yang tepat untuk menuliskannya. Saya merasa kesibukan kerja saya telah menghabiskan seluruh energi saya. Bahkan pada saat-saat tersibuknya, untuk makan saja saya tidak bernafsu. Apalagi untuk menulis. Saya seakan mengabdikan diri untuk kesibukan yang tidak tahu kapan dan dimana ujungnya.
Namun, setiap kesibukan akan ada akhirnya. Waktu tidak diciptakanNya hanya untuk bersibuk-sibuk saja sebagaimana sebagian masyarakat Jepang, dan juga Amerika, rasakan. Apabila masyarakat Indonesia berprinsip "bekerja untuk hidup", mereka kebalikannya. Buat mereka, hidup ini dihadirkan bagi mereka untuk bekerja. Kerja sampai mati, pokoknya harus begitu hidup ini dijalani. Tidak peduli dengan waktu-waktu bersama keluarga, itu bisa dilakukan nanti. Mungkin akhir bulan, akhir tahun, atau akhir hidup. Mereka hidup hanya untuk kerja. Dampaknya, masyarakat mereka seperti kehilangan ruh. Tanpa pegangan, hidup (era kapitalisme liberal) memang mudah sekali membuat kita tersasar di tengah-tengah samudera tanpa penghayatan.
Padahal, hidup jauh lebih luas daripada kesibukan yang temporer sifatnya. Di tengah kesibukan, ya memang belum ada apa-apanya dibandingkan professional lain, saya toh masih bisa membaca beberapa buku yang baik sekali. Buat saya, buku yang baik berisikan pemikiran yang benar-benar menjungkirbalikkan keyakinan. (Memang sih, kadang ada buku-buku yang sok menjungkirbalikkan kebenaran, tapi malah norak. Terlalu lebay dan tidak pada konteksnya. Saya kadang berpikir, buku seperti itu tidak pantas dibaca khalayak ramai karena justru merusak. Tapi siapalah saya ini berhak mengatakan buku, atau sekedar pemikiran, sebagai sesuatu yang merusak masyarakat). Buku-buku yang baik adalah buku yang mendekonstruksi pola pikir, yang rasanya membuat kita terus ingin mengetahui gagasan apa di tiap halaman berikutnya, dan selalu memanasi otak kita dengan pertanyaan: Apakah ada yang salah dengan cara hidup sekarang, dan bagaimana solusinya?
Prinsip dasar yang diajari bertahun-tahun selama saya menjadi mahasiswa adalah bahwa manusia tidak tahu cara hidup yang benar. Tapi karena usia hidupnya pendek, serta terlalu rumit untuk mencari tahu solusinya, mereka anggap saja benar. Itu, dalam bahasa formalnya, disebut taken for granted. Hidup sudah begitu dari sananya. Kita hanya tinggal jalani saja.
Malah terpikir oleh saya untuk menjadikan blog ini sebagai tempat saya mereview, mengomentari, mengkritik atau menuliskan apa saja yang terlintas dalam benak ketika saya selesai membaca buku. Semacam blogger komentator. Atau blogger kritikus buku. Jika ingin lebih profesional, bisa terbaca seperti professional books eater.
Jadi, tiap saya teringat blog saya, saya akan teringat pertama-tama pada buku. Apapun itu, asalkan buku. Buku apa yang telah saya baca dan meningkatkan pemahaman saya akan kehidupan ini? Apa yang terlintas di pikiran saya, bagaimana kritik saya terhadap pemikiran yang terkandung di buku itu? Dan apakah saya akan merekomendasikan buku itu pada keluarga, teman atau kerabat saya nantinya.
Nampaknya karena terlalu lama vaccum, saya jadi penulis yang terlalu loose akan tema.
Saya baru saja membeli sebuah buku karena amat tertarik pada gagasan yang terkandung di dalamnya. (Beberapa bulan ini saya malas sekali membeli buku, apalagi buku berat a la textbook, karena lebih tertarik untuk memperdalam pengetahuan mengenai kantor dan segala ilmu yang terkandung dalam setiap detil hari-harinya). Buku itu berjudul 4-Hour-Workweek, dikarang oleh "orang gila" bernama Tim Ferriss. Dari judulnya, kita bisa menebak suatu utopia, suatu impian yang nampaknya menjadi mimpi sejuta umat: untuk bisa bekerja hanya empat jam seminggu!
Boro-boro kerja empat jam seminggu. Kerja 120 jam seminggu saja sulit didapat era sekarang.
Buku ini menawarkan pada kita bahwa kita berhak menentukan gaya hidup kita. Kita tidak harus menunggu tua untuk bisa menikmati hidup. Sebagian dari kita, dan banyak sekali masyarakat Indonesia, yang masih percaya bahwa cara untuk menjalani hidup adalah seperti ini: bekerja bagai budak, menabung sampai bosan, dan pensiun dengan indah mengenang masa lalu. Padahal, hidup tidak harus berlalu seperti itu. Tim Ferriss berupaya mempertanyakannya, dan ia berhasil membuat saya ikut-ikutan karena ia berhasil menjalani hidup dengan caranya sendiri.
Artinya, ia tidak omong kosong karena ia sendiri berhasil mempraktekkan apa yang diceramahinya. He practices what he preach. Dan sebagaimana yang kita tahu, banyak sekali inspirator di luar sana yang hanya bisa ngomong tanpa memberi contoh. Hanya bisa menjual surga tanpa pernah tahu rasanya seperti apa. Parahnya lagi, masyarakat mengiyakan saja orang-orang yang ecek-ecek itu. Sudahlah, masyarakat kita memang aneh. Tidak perlu ikut-ikutan aneh.
Seorang pembaca akan mendapatkan hal yang sama sekali berbeda meskipun bahan bacaannya sama. Itulah fitrah menjadi seorang pembaca. Dan bagi saya, sebelum saya melihat apa yang didapatkan orang lain di Goodreads, saya akan memikirkan apa yang paling penting, yang begitu kuat menempati posisi pertama di pikiran saya. First thing in mind.
Bagi saya, dari banyak sekali hal yang ingin disampaikan Tim Ferriss dalam 4-Hour-Workweek, ada satu hal paling penting yang harus menjadi fokus, dan justru jangan sampai dilupakan karena terlalu sibuk memperhatikan detilnya. Itu adalah tentang waktu dan mobilitas. Ini adalah hal baru dalam khazanah buku motivasi cum kesuksesan duniawi. Apabila buku lain banyak berfokus pada meraih uang sebanyak-banyaknya, dan bangun keluarga dengan seharmonis-harmonisnya, Ferriss malah memberitahu kita, masyarakat modern yang mabuk waktu, bahwa waktu adalah hal terpenting dalam hidup manusia yang sangat singkat ini. Mengapa demikian?
Karena ia menemukan bahwa manusia salah dalam menafsirkan waktu. Banyak manusia yang menjustifikasi penundaan berbagai hal penting dalam hidupnya, hanya untuk mendapatkan waktu yang tepat. Padahal, menurutnya, waktu tidak pernah tepat. Bukan, ini bukan bermakna bahwa semesta berkonspirasi melawan manusia. Hanya saja, semesta juga tidak diperuntukkan untuk satu orang saja. Semesta bekerja dengan adil, dan semua orang mengalami lampu merah yang sama. Hidup tidak pernah, dan justru tidak aman rasanya, jika hanya ada lampu hijau. Justru lampu merah-lah, hambatan-lah, waktu yang terasa tidak pernah tepat-lah, yang menjadi penyelamat manusia itu sendiri.
Lalu, setelah itu, apa?
Ia tekankan pentingnya untuk memiliki waktu. Jangan pernah menyia-nyiakan waktu, utamanya masa muda. Ia prihatin mengapa begitu banyak anak muda menunda-nunda keputusan terpenting dalam hidupnya. Contohnya, seperti ingin menikah atau keliling dunia. Ia menunda untuk menikah karena belum ada modal. Hal yang sama dengan keliling dunia. Apa dan siapa yang dengan otoritasnya, mampu menjamin bahwa di suatu waktu nanti yang entah dekat atau jauh, akan ada waktu yang tepat untuk memutuskan hal penting di hidup kita?
Saya sebenarnya tidak suka menulis terlalu panjang. Apalagi di blog. Tapi, buku ini satu, dari sedikit hal lain, yang benar-benar menghentakkan saya. Jasmaniah dan rohaniah.
Lalu, siapakah The New Rich itu? The New Rich bukanlah OKB (Orang Kaya Baru/Nouveau Riches) sebagaimana banyak dialami masyarakat urban. Apalagi Jakarta. The New Rich versi Ferriss adalah mereka yang memiliki tiga komponen utama untuk mampu menikmati gaya hidup superstar. Rasanya kalau saya ceritakan tiga komponen utama itu, justru merusak tujuan saya menulis tulisan ini: mendorong siapapun pembaca agar membaca buku itu. Biarlah tiga komponen utama itu diketahui dan dimaknai masing-masing pembaca.
Lagipula, ini sudah dekat jam pulang kantor.
Komentar
Posting Komentar