Debt Based Money
Bagaimana dunia keuangan global berjalan?
Benarkah semua negara berhutang pada satu bank besar?
Benarkah tanpa hutang ekonomi tidak akan berputar?
Pertanyaan-pertanyaan itu masih menimbulkan tanda tanya bagi saya. Untuk memahami bagaimana dunia ini bekerja, pertama-tama penting sekali untuk mencari tahu bagaimana sistem ekonominya, wabil khusus sistem keuangannya. Pemahaman yang baik akan sistem keuangan global saya kira akan memampukan seseorang merancang masa depan dengan jauh lebih baik dibanding mereka yang tidak paham sama sekali.
Ini bukan berarti masa depan hanya terkait dengan keuangan saja. Tetapi, masa depan perlu dirancang dengan pengetahuan keuangan yang memadai. Ya, bukan uangnya yang menjadi penting tetapi pengetahuan akan uang. Inilah yang berulang kali ditegaskan para financial planner kelas wahid dunia, seperti Robert Kiyosaki cs. Jadi, menurut mereka tidak masalah anda tidak memiliki uang sekarang, bahkan memiliki hutang, asalkan anda memiliki pengetahuan yang memadai akan uang itu sendiri. Uang akan datang seiring pengetahuan anda berkembang (walau lebih baik lagi apabila memiliki pengalaman langsung).
Kembali kepada tiga pertanyaan di atas. Menurut satu buku yang saya baca, dunia keuangan global berjalan dengan hutang. Negara-bangsa memerlukan hutang agar ekonomi warganya dapat berjalan. Pertanyaannya adalah, mengapa negara bangsa memerlukan hutang? Dan dalam koridor hukum internasional, siapa yang memiliki kapasitas untuk meminjamkan hutang? Sepemahaman saya, salah satu alasan negara bangsa memerlukan hutang adalah untuk membiayai pembangunannya. Karena uang dalam negeri amat terbatas, maka negara itu meminjam (dengan persyaratan dan perjanjian yang disepakati tentunya) agar infrastruktur terbangun, transaksi ekonomi mikro bergeliat, dan lain sebagainya. Intinya adalah agar negara membangun ekonominya sendiri. Dan untuk pertanyaan kedua, meski saya belum paham betul bagaimana hukum internasional mengatur tetek bengek perhutangan itu, saya tahu pasti bahwa dana hutang itu diberikan oleh lembaga internasional bernama IMF (International Monetery Fund).
IMF inilah yang mengerikan betul. Beberapa teori konspirasi (ya, betul, disebut teori karena tidak asal-asalan dan ada riset yang sangat mendalam mengenai itu) mengatakan bahwa IMF adalah bentukan kapitalis terbesar jagat raya, siapa lagi kalau bukan "keluarga" Rockefeller. Jika, dan hanya jika, IMF adalah lembaga Rockefeller, maka bisa dipastikan bahwa dana tersebut milik "keluarga" tersebut. Jika dana tersebut milik mereka, maka seluruh negara bangsa berhutang pada mereka.
Luar biasa. Bisa dibayangkan betapa berkuasanya mereka atas ekonomi dunia. Saking berkuasanya, mereka dapat menggoyangkan ekonomi dunia hanya dalam satu malam, apabila mereka mau iseng. Inilah yang menyebabkan mengapa negara berkembang amat rawan terhadap gejolak ekonomi, seperti inflasi, deflasi dan lainnya.
Tapi tenang dulu, itu masih sebatas teori konspirasi, belum fakta konspirasi. Kita berharap itu semua hanyalah kebohongan, walaupun hasilnya tetap mengerikan.
MASALAH DALAM DEBT-BASED MONEY
Sistem keuangan berbasis hutang seperti ini menguntungkan mereka yang berperan sebagai pemberi hutang (piutang). Karena ada ketentuan bahwa mereka yang meminjam uang (penghutang) harus membayarkan bunga atas masa pinjamannya. Nilai tambah dari ketiadaan inilah biang masalah sistem kapitalisme modern. Uang itu bertambah bukan karena kerja keras, pemikiran maupun hasil karya orisinil si pemberi hutang, tetapi hanya karena jangka waktu yang ditentukan dan disepakati bersama. Sekilas memang tiada masalah seperti ini. Tapi, apabila kita tilik lebih jauh, kita akan menemukan bahwa sistem ini amat merusak kehidupan ekonomi masyarakat. Dan kita semua tahu, rusaknya tatanan ekonomi akan berdampak domino terhadap rusaknya tatanan sosial lainnya. (Untuk urusan ini, saya sepakat dengan Marx yang telah menjelaskannya dengan simpel bahwa ekonomi adalah basis/Infrastructure dari bangunan peradaban, sementara sosial - politik - budaya adalah cerminannya saja/Suprastructure).
Dalam kehidupan sehari-hari orang biasa (lay person worldview), masalah hutang ini dapat dilihat dari aspek tersederhana agen penyalur dana: rentenir. Sebelum bank menjadi dominan seperti sekarang, rentenir telah bekerja dengan "baik" meminjamkan sebagian dana yang dimilikinya. Ia bertindak layaknya penyelamat, pada awalnya. Hal ini berakhir, dan disadari peminjam, bahwa rentenir sang penyelamat tadi tiba-tiba berubah ganas karena jangka waktu pinjaman telah memasuki tenggat. Si peminjam harus mengembalikan dana ditambah bunga pinjaman. Nikmat betul menjadi rentenir.
SISTEM EKONOMI MODERN MEMANG MENGHARUSKAN DEBT-BASED MONEY
Pertanyaannya kemudian adalah, apabila kita meminjamkan uang tanpa mendapatkan bunga pinjaman, maka yang kita dapatkan adalah kerugian. Boro-boro untung, balik modal saja tidak. Loh kok bisa?
Karena inflasi itu pasti, sepasti kematian. Dalam debt-based money, inflasi menjadi kepastian karena berlimpahnya uang tidak dibarengi dengan berlimpahnya barang/jasa. Uang yang menjadi kurang berharga di tengah kelangkaan barang/jasa tersebut lalu turun nilainya. Di sisi lain, barang/jasa yang dibutuhkan justru melambung harganya. Disinilah kebijakan bunga menjadi make sense: manusia tidak mau rugi dalam transaksi ekonominya. Homo economicus sejati.
Lalu, apakah adil memberikan bunga pinjaman dalam konteks inflasi yang pasti/ekonomi yang bergejolak?
Perhitungannya begini. Dengan adanya bunga pinjaman, uang yang dikembalikan pada masa yang akan datang akan sama nilainya dengan uang yang dipinjamkan saat ini. Atau lebih-lah sedikit. Keduanya diuntungkan: si peminjam dapat berusaha dengan dana tersebut dan si pemberi dana akan "investasi" melalui uang yang ditanam. Uang ini toh nantinya akan menghasilkan uang lagi, yang mungkin jauh lebih besar.
Belakangan, ilmu ekonomi dasar seperti keuangan ini amat menarik saya karena membuka mata bahwa ekonomi yang sekarang dijalani seluruh warga dunia amatlah rawan apabila tidak segera diubah sistemnya. Apapun itu sistem yang akan digunakan, saya kira debt-based money haruslah dimusnahkan. Mungkin, sebagian dari penganut sistem liberal ekstrem pun akan setuju setelah melihat realitas ekonomi dewasa ini. Di masa depan, saya berharap dan ingin memastikan bahwa hidup saya dan keluarga terdekat akan terhindari dari hutang-menghutang yang tidak produktif. Semoga keluarga anda juga. Aamiin.
3 Maret 2016
GW
Komentar
Posting Komentar