Komoditas Baru Kapitalisme

Saya bisa memaklumi apabila manusia melakukan pertukaran setiap harinya. Saya juga masih bisa maklum kalau pertukaran itu berdasarkan barang yang riil. Kapitalisme memang terbangun berdasarkan kebutuhan pertukaran itu, terutama pertukaran modal dalam bentuk barang dan jasa. 

Tapi, belakangan saya agak terheran-heran dengan kapitalisme. Saya kira, sepahit-pahitnya kapitalisme, manusia-lah yang jadi pelakunya, sekaligus korbannya. Perkiraan saya salah. Kapitalisme menjual segalanya yang bisa dijadikan modal.Ya, segalanya yang ada di bumi, terlihat maupun tidak. 

Mungkin, karena bosan dengan barang dagangan yang selalu terlihat, kapitalisme mulai menjual barang yang tidak terlihat. Bukan barang memang, tapi apa namanya kalau dipertukarkan? Maka lahirlah acara-acara televisi dan film yang mistis, yang penuh dengan sosok setan mengerikan, yang ironisnya, digila-gilai masyarakat. Ada apa dengan masyarakat kita? 

Dahulu, segala yang mistis diperlakukan spesial. Generasi sebelum informasi meledak-ledak memperlakukan hal yang mistis dengan benar-benar mistis. Mereka memberikannya pemaknaan yang bergantung pada kondisi sosial masing-masing. Mereka menghormati yang mistis. Mereka menghidupi yang mistis dengan serius, mereka takut kalau yang mistis mulai mengganggu. Mereka berusaha untuk setidaknya hidup selaras dengan yang mistis. 

Tapi itu dahulu...

Sekarang, yang terjadi adalah komoditisasi mistis. Setan-setan yang terlihat mengerikan, sekarang terlihat konyol. Pocong yang dahulunya selalu berkaitan dengan kata takut, sekarang begitu lekat dengan kata galau dan jenaka. Bukan hanya pocong, teman-temannya pun begitu. Mereka sangat menguntungkan kapitalisme! Berapa banyak orang yang jadi kaya, hanya karena menjual yang mistis ini. Saya tidak tahu, tapi yang pasti saya tahu, yang mistis sudah berubah maknanya sekarang.

Entah apa yang ada dalam benak yang mistis. Mereka mungkin bete, galau dan pasrah dengan manusia dan kapitalismenya. Mereka tidak lagi relevan dengan kata takut, yang sebelumnya mereka bangga-banggakan dan selalu pamerkan. Atau, mereka justru senang karena merasa akrab dengan manusia. Jangan-jangan, dari dulu mereka ingin merasa akrab dengan manusia, bahkan sejatinya selalu ingin menghibur manusia, meskipun harus dijadikan barang dagangan. Yang jangan sampai terjadi adalah, ketika mereka merencanakan revolusi terhadap kapitalisme. Membayangkan segelintir manusia merevolusi kapitalisme saja sudah mengerikan, apalagi mereka! 

Saya bukan ingin menyampaikan bahwa yang mistis adalah teman manusia dalam merevolusi kapitalisme, bukan. Saya ingin gambarkan bagaimana masyarakat memaknai sesuatu, dalam hal ini yang mistis, amat bergantung dari bagaimana kondisi aktual masyarakatnya. Berapa banyak masyarakat urban menganggap relevan yang mistis, dibandingkan masyarakat desa yang tradisionil? Masyarakat urban tidak lagi berbahasa dengan mistisisme, mereka berbahasa rasionalisme. Oleh karena itu, ketimbang yang mistis menjadi irrelevan dan tidak berguna buat mereka, mereka jual saja sekalian yang mistis itu. Tidak ada masalah sama sekali. 

Kiranya telah nyata bagaimana kekuatan modal membentuk makna terhadap banyak segi kehidupan manusia. Yang mistis, meskipun tetap mistis, nyatanya hanyalah jualan saja bagi kapitalisme. Meskipun dahulu mereka memiliki momentum untuk menganggu manusia, mereka harus mengakui kekuatan modal atas mereka. Mereka langsung bertekuk lutut pasrah berhadapan dengan modal. Atas segalanya, modal benar-benar berkuasa.

Jadi, jangan heran kalau 10 tahun lagi, atau paling banter 20 tahun lagi mungkin, yang mistis atau pocong dan teman-temannya itu, tidak lagi dimaknai mereka yang berbeda dengan manusia. Mereka telah bekerja sama dengan manusia untuk menciptakan modal sebanyak-banyaknya. Mereka menjadi salah satu aktor pembangun kapitalisme. Mereka telah menjadi bagian penting moda produksi kapitalisme itu sendiri. 

Tetapi, kita tetap harus menunggu. Selalu ada pilihan, termasuk, untuk tidak menjadikan yang mistis sebagai bagian dari kegilaan bernama modernitas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

484

Langka

Kolam Renang