Postingan

Debt Based Money

Bagaimana dunia keuangan global berjalan?  Benarkah semua negara berhutang pada satu bank besar?  Benarkah tanpa hutang ekonomi tidak akan berputar?  Pertanyaan-pertanyaan itu masih menimbulkan tanda tanya bagi saya. Untuk memahami bagaimana dunia ini bekerja, pertama-tama penting sekali untuk mencari tahu bagaimana sistem ekonominya, wabil khusus sistem keuangannya. Pemahaman yang baik akan sistem keuangan global saya kira akan memampukan seseorang merancang masa depan dengan jauh lebih baik dibanding mereka yang tidak paham sama sekali.  Ini bukan berarti masa depan hanya terkait dengan keuangan saja. Tetapi, masa depan perlu dirancang dengan pengetahuan keuangan yang memadai. Ya, bukan uangnya yang menjadi penting tetapi pengetahuan akan uang. Inilah yang berulang kali ditegaskan para financial planner kelas wahid dunia, seperti Robert Kiyosaki cs. Jadi, menurut mereka tidak masalah anda tidak memiliki uang sekarang, bahkan memiliki hutang, asalka...

Tentang Riba

Mengenai dosa-dosa yang kasat mata, berkaitan dengan tubuh, dan menjadi bahasan sehari-hari ustadz kampung, umat memang mudah mengenalinya. Dan dengan mudah juga, mungkin mampu menghindarinya. Tapi, perkara yang abstrak bentuknya, bahkan tafsir mengenainya pun masih beragam, bagaimana umat Islam Indonesia (untuk nanti saya singkat menjadi umat) bersikap atasnya?  Sudah banyak sekali tulisan mengenai bahaya dari riba, mulai dari konsekuensi hingga hukumannya yang tidak hanya di dunia tetapi juga di akhirat. Dan itu amat mengerikan. Saya pernah dengar di radio pagi, seorang ustadz mengatakan bahwa mereka yang menikmati keuntungan hasil riba, di akhirat nanti akan dipersilahkan berperang menggunakan senjata riba mereka melawan tentara Rasul. Wallahu a'lam , tapi saya merinding mendengarnya. Di tengah tingkat kemiskinan dan kerawanan umat yang mengerikan, yang mengherankan adalah wacana yang mengemuka di media sosial belakangan. Umat malah disibukkan, dan mungkin menikmati ta...

Begitu Banyak Yang Belum Tertulis

Ekonomi Islam, Perbankan Syariah, Kapitalisme, Sosialisme Fabian, Demokrasi dari bawah, Otorianisme berbasis Hukum Syariah, dan berbagai wacana lain selalu menunggu untuk saya tuliskan. Tetapi, seperti banyak wacana politik - ekonomi lainnya, saya justru menunggu momentum yang tepat untuk menghadirkannya ke dalam diskursus. Rasanya, saya tidak bisa menuliskan wacana ini dalam lingkungan yang belum mendorong saya ke arah sana.  Saya butuh dorongan, dan merasa memiliki target yang amat spesifik untuk menghasilkan sesuatu. Not enabling enough . I need supportive environment, and that's why i need to continue my study as fast as i can. Hopefully it will be all about Islamic Economics.  

About The New Rich

Benar-benar, benar-benar tulisan aftercapital. Tulisan yang dilahirkan hanya pada waktu-waktu setelah pencarian tanpa henti terhadap materi. Bahasa sederhananya, setelah kerja. Bahasa penjelasnya, setelah memiliki waktu luang untuk sekedar menuangkan sedikit pemikiran yang telah lama menghinggap, bahkan hampir usang karena terlalu lama dibiarkan sendiri.  Jangankan pemikiran yang abstrak, makanan saja yang riil kalau dibiarkan akan basi dengan sendirinya. Materi membutuhkan perhatian manusia agar kehadirannya bisa berarti. Tanpa manusia, ia tidak berarti.   Anthropocentric at its best .  Jadi, selama kurang lebih dua bulan saya tidak lagi menulis di blog ini. Saya bukannya tanpa pemikiran untuk dituangkan (sesungguhnya itu terlalu banyak!), tapi saya merasa tidak ada waktu yang tepat untuk menuliskannya. Saya merasa kesibukan kerja saya telah menghabiskan seluruh energi saya. Bahkan pada saat-saat tersibuknya, untuk makan saja saya tidak bernafsu. Apalagi unt...

Hidup Hanya Untuk Bersenang-Senang

Tulisan ini terinspirasi dari video klip DJ kelas dunia, Avicii, yang tidak sengaja saya tonton di waktu senggang. Judulnya "The Nights".  Pada awalnya, hanya iseng saja. Selingan di antara kerjaan. Tapi, saya jadi bertanya-tanya arti hidup secara mendasar setelah menonton video itu.  Video tersebut menampilkan satu sosok pria muda yang menjalani hidup dengan sepenuhnya. Bahasa sekarangnya, " live life to the fullest ". Ia menaiki gunung dengan religius, mengendarai mobil dengan puas, berenang dengan penuh kebahagiaan, dan mengunjungi beberapa bagian bumi yang sangat indah. Sangat indah. Bagi beberapa, gaya hidup petualang " adventurer lifestyle" seperti itu adalah hal yang seharusnya mereka jalani. Bukannya terbebani dan menghabiskan sisa usia di kubikel-kubikel yang mengasingkan. Di akhir video, pria tersebut menuliskan, dengan begitu artistik, sebuah pesan adiluhung di tembok jalanan " live a life you will remember" . Itu adalah t...

Konstitusi Dimata Awam

Pernah suatu ketika dalam kelas konstitusionalisme, saya dan peserta lain ditanyakan oleh pemateri. Ia seorang pakar hukum tata negara yang seringkali berkomentar di layar kaca. Dan modis. Ia membuka materi dengan langsung bertanya, tanpa memberikan sedikitpun materi sebelumnya.  Sederhana saja, " Apa itu konstitusi ?" Pertanyaan yang terdengar simpel, tetapi sangat abstrak dan luas makna atasnya. Saya melihat teman-teman memutar otak, agar jawabannya bisa memuaskannya. Beberapa jawaban pun terdengar. Ada yang berputar-putar, ada yang langsung menjawab dengan tegas. Konsekuensinya, jawaban atasnya begitu beragam. Sebagai pembelajar pemula konstitusi dan konstitusionalisme, saya membutuhkan kepastian. Setidaknya, satu definisi yang cukup andal untuk dijadikan pegangan berpikir. Secara spontan, saat itu saya menjawab dua kata saja untuk konstitusi: kontrak sosial. Saya teringat, entah dimana dan kapan, bahwa konstitusi pada dasarnya adalah perjanjian saja. Ia adalah ke...

Kutukan Seorang Penulis

Ada apa di balik jiwa dan pemikiran seorang penulis? Adakah kegalauan, kecemasan, kemarahan dan kebencian? Atau ada kebaikan, kejernihan, ketenangan dan kematangan?  Pertama-tama, patut diketahui bahwa tulisan ini tidak hendak menggeneralisir penulis sebagai satu kesatuan yang utuh. Hanya mencoba menemukan pola-pola yang umum ditemukan dalam diri seorang penulis. Yang saya tahu, menjadi seorang penulis, yang tulen tentunya, adalah siap dengan kutukan-kutukannya. Menulis bukan hanya sekedar menuangkan gagasan ke media tulis: ia adalah proses multidimensi. Ia bisa bersifat spiritual karena menyangkut kesadaran manusia. Bisa bersifat sosial karena setiap tulisan yang dapat dibaca mampu mengubah keadaan masyarakat pada level paling kecilnya. Bisa bersifat politis, ekonomis, psikologis dan segala dimensi kehidupan manusia.  Apapun itu, saya akan membahas sedikit saja tentang kutukan, mitos atau apapun kita menyebutnya, menjadi seorang penulis. Ini berdasarkan pembacaan t...